Wilujeng Sumping Ka Blog Simkuring

Loading...

Kamis, 10 Maret 2011


http://www.ziddu.com/download/10151963/Kelas7.rar.html

Minggu, 06 Maret 2011

Rahasia Cerdas Anak Indonesia

Akibat Merokok

Proposal skripsiPengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik terhadap Pemahaman Matematika Siswa (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VI

PROPOSAL SKRIPSI
A. Judul Skripsi
Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik terhadap Pemahaman Matematika Siswa (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Susukanlebak Kabupaten Cirebon).
B. Latar Belakang Masalah
Pada masa ini meningkatkan pembangunan dalam segala bidang sedang hangatnya dibicarakan di seluruh dunia, baik di negra maju maupun berkembang. Salah satu pembangunan yang ditingkatkan adalah pembangunan di bidang pendidikan.
Pendidikan merupakan salah satu proses untuk mengembangkan aspek-aspek kepribaian manusia yang menyangkut pengetahuan, sikap serta keterampilan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik.
Menurut Undang-Unang RI No. 20 Tahun 2003, Bab 1 Pasal 1 (dalam Elis Yusimarliah, 2007: 1)
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Menurut Ruseffendi( 2006 : 22 ), tujuan pendidikan nasional itu dapat dibaca pada GBHN sebagai berikut: Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan , mempertingi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsan dan cinta tanah air,agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa
Dari pernyataan di atas, bahwa pendidikan itu sangat berguna sekali bagi manusia, karena dengan pendidikan akal budi manusia akan berkembang sehingga memiliki kemampuan dan kepribadian yang di perlukan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini cukup pesat, sehingga semua pihak memperoleh pengetahuan yang cepat dan mudah. Maka siswa pun dituntut untuk memiliki kemampuan berfikir kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemampuan bekerja sama yang efektif. Kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan melalui belajar matematika karena penggunaanya yang universal dalam berbagai ilmu. Sebagaimana dalam Depdiknas (2003 : 8)
Matapelajaran Matematika dapat membantu menumbuhkembangkan bernalar yaitu berfikir sistematis, logis dan kritis dalam mengkomunikasikan gagasan atau pemecahan masalah

Sejalan dengan uraian di atas, bahwa kebanyakan siswa tidak menyukai matematika, karena materinya dirasakan sulit sehingga materi pelajaran kurang dipahami dan dimengerti sehingga menimbulkan siswa menjadi males. Bermasalahnya pembelajaran matematika disekolah ditunjukan oleh rendahnya hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika.
Salahsatu penyebab rendahnya pemahaman siswa dalam matematika, diakibatkan karena guru berkonsentrasi terhadap-hal-hal yang procedural dan mekanistik, sehingga pembelajaran disampaikan secara informative dan siswa dilatih menyelesaikan soal tanpa dilihat proses pemahaman dan kemampuannya dalam memcahkan masalah.
Sehingga untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa dalam belajar matematika. Sebagaimana Ruseffendi (2006 : 7) mengatakan :
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar diantaranya yaitu kecerdasan anak, bakat anak, kemauan belajar, minat anak, dan model pembelajaran.
Peran serta guru dituntut untuk lebih propesional didalam melakukan proses kegiatan belajar mengajar, karena merupakan komponen utama yang bertanggung jawab dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu guru harus memiliki metode mengajar agar siswa mendapatkan suasna belajar yang menyenangkan.
Dalam upaya peningkatn kemampuan pemahaman matematika sisw , maka guru dapat memilih salah satu pendekatan yang akan diberikan kepada siswa salah satunya adalah dengan Pendekatan Realistik. Pendekatan Realistik merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami pembelajaran matematika,karena dengan menggunakan pendekatan realistik membantu siswa mengembangkan daya pikir matematika sehingga sisa dapat menjawab permasalahan. Oleh karena itu, pembelajaran pembelajaran matematika dengan pendekatan realistic dapat dikaitkan dengan upaya pengembangan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika yang berbasis masalah.
Berdasarkan uraian di atas, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul Skripsi “Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Realistik terhadap Pemahaman Matematika Siswa (Studi exsperimen pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Susukanlebak Kabupaten Cirebon)”.
C. Rumusan dan Batasan Masalah
Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan realistic berpengaruh terhadap pemahaman matematika siswa di kelas VII SMP Negeri 1 Susukanlebak Kabupaten Cirbon”?
Mengingat adanya keterbatasan dari waktu dari penulis, maka dalam penelitian penulis membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun permasalahan yang diteliti adalah sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik berpengaruh terhadap pemahaman siswa?
2. Apakah Kemampuan pemahaman matematika siswa yang pembelajarannya dengan menggunakan pendekatan realistic akan lebih baik daripada pendekatan tradisional?
Untuk menghindari kekeliruan pemahaman dan agar penelitian ini terarah dan lebih jelas, maka penulis membatasi masalah dalam penelitian ini hanya pada pokok bahasan Himpunan.
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik berpengaruh terhadap pemahaman matematika siswa.
2. Untuk mengetahui apakah kemampuan pemahaman matematika siswa yang pembelajarannya dengan menggunakan pendekatan realistic lebih baik dari pada pendekatan tradisional
Sedangkan kegunaan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi peneliti, dapat mengetahui pengaruh premahaman matematika siswa yang pembelajarannya dilakukan dengan pendekatan realistik
2. Bagi siswa, penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk dapat memahami pelajaran matematika menjadi lebih baik dan lebih termotivasi lagi untuk menyukai matematika
3. Bagi Guru, dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan dapat di jadikan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh siswa dan sebagai salah satu alternative metode pembelajaran.
4. Bagi institusi pendidikan (sekolah), hasil penelitian ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika
E. Anggapan Dasar dan Hipotesis
Anggapan dasar adalah suatu pernyataan yang dapat diterima tanpa diperlukan adanya suatu pembuktian. Dalam setiap penelitian ilmiah anggapan dasar ini sangat dipenting karena bisa dipakai untuk mengambil langkah-langkah yang tepat didalam mencapai tujuan. Dalam hal ini menurut Arikunto (dalam Herlianti, 2008:7), “Anggapan Dasar Postulat adalah sebuah titik total pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik”. Anggapan dasar ditetapkan sebagai landasan bagi peneliti untuk menentukan langkah-langkah yang tepat dalam melakukan penelitian.
Dengan memperhatikan pendapat di atas, maka anggapan dasarnya adalah sebagai berikut:
1. Penerapan pendekatan pembelajaran dan metode mengajar yang tepat dapat meningkatkan motovasi dan hasil belajar siswa.
2. Dengan pendekatan realistic dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan kemampuan pemahaman dan kreatifitas berfikir siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan teori dan tinjauan pustaka dan harus diuji kebenarannya. Menurut Arikunto (dalam Herllianti, 2008 : 7) mengemukakan bahwa “Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”. Hipotesis merupakan salah satu wujud kebenaran yang harus diuji yang menyangkut hubungan antara satu variable dengan variable yang lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut, dalam penelitian ini penulis menyusun hipotesis sebagai berikut: “Kemampuan pemahaman matematika siswa yang menggunakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan realistic lebih baik pada yang pembelajarannya dengan menggunakan pendekatan tradisional”.
F. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Belajar
Belajar dianggap sebagai proses perubahan prilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Menurut sagala (2006 : 12) mengemukakan bahwa “belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, prilaku dn keterampilan dengan cara mengolah bahan ajar”.
Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan prilaku. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006 : 156),
Belajar adalah proses melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan organisme sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan dan sikap
Sebagai landasan mengenai apa yang dimaksud belajar berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi belajar menurut para ahli (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006 : 9-16);
a. Menurut Skinner belajar adalah suatu perubahan prilaku seseorang pada saat belajar, maka responnya menjadi lebih baik.
b. Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks.
c. Menurut Piaget bahwa belajar adalah pengetahuan yang di bentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan.
d. Menurut Rogers bahwa belajar merupakan praktek pendidikan yang menitikberatkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar.
Dari pengertian belajar di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi dalam diri seseorang melalui kegiatan yang kompleks atau proses yang melibatkan seseorang secara individu sehingga terjadinya perubahan pada pengetahuan, sikap dan keterampilan.
2. Pengertian Pembelajaran Matematika
Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan lingkungannya yang dibangun interaksi secara penuh dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berinteraksio dalam proses pembelajaran. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006 : 157)
Pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap

Berdasarkan UUSPN No. 20 Tahun 2003, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Belajar matematika bagi anak merupakan suatu proses yang sukar, sehingga diperlukan pengetahuan dan pengertian dasar yang kuat sejak anak mengikuti pelajaran matematika di tingkat Sekolah Dasar. Dalam proses pembelajaran menunjukan pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran.
Menurut Nickson (dalam Hellianti, 2008 : 9) bahwa pembelajaran matematika adalah pemberian bantuan kepada siswa untuk membangun konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan proses yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan gagasan yang diberikan. Adapun tujuan utama pembelajaran matematika yang pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematika yang bersifat kompleks.
3. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik
Pendekatan pembelajaran matematika menurut Suherman, dkk. (2001: 70), “Cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa”. Sedangkan menurut Ruseffendi (1988: 240), “Pendekatan pembelajaran adalah suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang ditempuh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pengajaran itu dikelola”.
Menurut Suherman, dkk. (dalam Laesarai, 2004: 13),
Ada dua jenis pendekatan dalam pembelajaran matematika yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan pendekatan yang bersifat materi. Pendekatan metodologi berkenaan dengan cara siswa mengadaptasi dengan konsep yang disajikan ke dalam struktur kognitifnya, yang sejalan dengan cara guru menyajikan bahan tersebut. Pendekatan metodologi di antaranya pendekatan spiral, induktif, deduktif, realistik, dan lain-lain. Sedangkan pendekatan material adalah pendekatan pembelajaran matematika di mana dalam menyajikan konsep matematika melalui konsep matematika lain yang telah dimiliki siswa.
Pendekatan pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan realistik. ‘Pendekatan realistik adalah suatu pendekatan di mana matematik dipandang sebagai suatu kegiatan manusia’ (Freudenthal, 1991; Gravemerjer, 1994; de Large, 1987, 1986; Streefland, 1991 dalam Laelasari, 2004: 13).
Pendekatan matematika realistik (realistic mathematics education) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Nederland. Ada suatu hasil yang menjanjikan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang telah ditunjukan bahwa siswa di dalam pendekatan RME mempunyai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan tradisional dalam hal keterampilan berhitung, lebih khusus lagi dalam aplikasi.
Beberapa penelitian pendahuluan dibeberapa negara menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan realistik sekurang-kurangnya dapat membuat:
a. Matematika lebih menarik, relevan dan bermakna, tidak terlalu formal dan tidak terlalu abstrak.
b. Mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa.
c. Menekankan belajar matematika pada learning by doing.
d. Memfasilitasi penyelesaian masalah matematika dengan tanpa menggunakan penyelesaian (algoritma) yang baku.
e. Menggunakan konteks yang titik awal pembelajaran matematika.
(Kuiper dan Knuver dalam Suherman, dkk., 2001: 125)
Salah satu filosofi yang mendasari pendekatan realistik adalah bahwa matematika bukanlah satu kumpulan aturan atau sifat-sifat yang sudah lengkap yang harus siswa pelajari. Pengembangan matematika dengan pendekatan realistik merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami matematika. Usaha-usaha ini dilakukan sehubungan dengan adanya perbedaan antara materi yang dicita-citakan oleh kurikulum tertulis (intended curriculum) dengan materi yang diajarkan dengan materi yang dipelajari siswa (realised curriculum) (Nich dalam Suherman, dkk., 2001: 126).
Banyak macam pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, tetapi secara umum menurut Treffers (dalam Nurhayati, 2006: 12), ‘Terdapat empat pendekatan pembelajaran matematika yang dikenal, yaitu mekanistik, strukturalistik, empiristik, dan realistik’.
Realistic Mathematic Education (RME) merupakan teori belajar-mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME pertama kali dikenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal (dalam Nurhayati, 2006: 13),
Matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa.
Pendekatan RME menurut Freudenthal (dalam Suherman, dkk., 2001: 13) dicirikan oleh beberapa hal:
a. Matematika dipandang sebagai kegiatan sehari-hari sehingga memecahkan masalah-masalah kontekstual merupakan hal yang esensial dalam pembelajaran.
b. Belajar matematika berarti bekerja dengan matematika.
c. Siswa diberikan kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematika di bawah bimbingan orang dewasa (guru).
d. Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif, di mana siswa menjadi fokus dari semua aktivitas di kelas. Kondisi ini merubah autoritas guru yang semula sebagai validator menjadi motivator atau pembimbing.
4. Pembelajaran Biasa (Tradisional)
Dalam hal ini pembelajaran biasa (tradisional) yang penulis gunakan dalam penelitian ialah suatu metode yang sudah sering dikemukakan dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas yaitu metode ekspositori. Menurut Ruseffendi (1991: 289),
Metode ekspositori yang sering disamakan dengan metode ceramah hanya metode ini setelah guru beberapa saat memberikan informasi, guru mulai menerangkan suatu konsep mendemonstrasikan keterampilannya mengenai pola/aturan/dalil tentang konsep itu. Siswa bertanya guru memeriksa apakah mengerti atau belum. Kegiatan selanjutnya ialah guru memberikan contoh-contoh soal, aplikasi konsep itu, selanjutnya meminta murid menyelesaikan soal-soal di papan tulis atau meja tulis.
Adapun menurut Syah (1995: 246),
Metode ekspositori digunakan untuk menyajikan bahan pelajaran secara utuh atau menyeluruh, lengkap dan sistematis dengan penyampaian secara verbal. Metode ekspositori sebenarnya tidak lebih dari metode ceramah yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga para siswa tidak hanya tinggal diam secara pasif dalam pengajaran ceramah yang tradisional.
Menurut Ahmadi dan Prsetya (1997: 23), secara garis besar prosedur metode ekspositori,
a. Preparasi. Guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi.
b. Apersepsi. Guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajukan.
c. Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah atau menyuruh siswa membaca bahan yang telah disiapkan dari buku teks tertentu atau yang ditulis guru sendiri.
d. Resitasi. Guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari, atau anak didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri tenang pokok-pokok masalah yang telah dipelajari, baik yang dipelajari secara lisan maupun tulisan.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam pembelajaran dengan metode ekspositori adalah siswa berkumpul dalam ruangan (kelas) untuk mendengarkan pelajaran yang diberikan oleh guru. Komunikasi pada umumnya terjadi hanya satu arah dari guru ke siswa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode ekspositori dominasi guru dapat dikurangi, guru hanya menerangkan suatu konsep dan contoh-contoh soal dan aplikasinya yang selanjutnya siswa disuruh menyelesaikan soal.
5. Pemahaman Konsep Matematika Siswa
a. Pemahaman
Pemahaman konsep merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran matematika agar dapat mengukur keberhasioan proses pembelajaran tersebut kita harus mengetahui definisi dari pemahaman.
Pemahaman merupakan terejemahan dari isilah comprehension. Gilbert (dalam hellianti, 2008;16) menyatakan, pemahanan adalah kemapuan menerangkan suatu hal dengan kata-kata yang berbeda dengan yang terdapat dalam buku teks, menginterpretasikan atau menrik kesimpulan.
Menurut Utari (dalam Hellianti, 2008;16), istilah pemahan sebagai terjemahan dari istilah Understading, mempunyai beberapa tingkatan kedalam arti yang berbeda. “Pemahaman siswa terhadap meteri pembelajaran di bedakan menjadi beberapa tingkatan.Tingkatan pemahaman meniru dan intuitif merupakan tingkatan paling dasar, dimana siswa baru sekedar tahu tentang konsep dari pengalaman sehari-hari. Tingkatan berikutnya yaitu pemahaman intruksional,dimana siswa tahu rumus dan dapat menggunakannya, tetapi belum tahu alasannya. Selanjutya tingkat pemahan observasi, pemahaman pencerahan dan pemahaman formal, akan di lalui siswa sebelimsampai pada tingkat pemahaman yang tertinggi, yaitu pemahaman relasional.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman merupakan kemampuan seseorang mengemukakan dan menjelaskan suatu konsep yang diperolehnya berdasarkan kata-kata sendiri tidak sekedar menghapal saja tanpa ada makna.
b. Konsep
Fungsi belajar matematika disekolah adalah belajar konsep. Konsep dapat diartikan sebagai sesuiatu yang diterima dalam pikiran atau suatu ide yang umum dan abstrak.
c. Konsep Matematika
Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 2006;157), konsp dalam matematika merupakan struktur matemaikayang terdiri dari tiga macam;
1. Konsep murni matematika (pure mathematica concepts), berkenaan dengan pengelompokan bilangan dan hubungan antara bilangan.
2. Konsep notasi (notational concepts), berkenaan dengan sifat-sifat bilangan sebagai akibat dari bilangan itu disajikan.
3. Konsep terapan (applied concepts), berkenaan aplikasi konsep murni dan konsep notasi dalam pemecahan masalah.
d. Pemahaman Kosep Matematika
Pemahaman konsep matematika adalah kemampuan seseorang mengemukakan dan menjelaskan konep matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari berdasarkan kata-kata sendiri tidak sekedar menghapal saja tanpa ada makna serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep matematika itu. Pemahaman terhadap matrematika menjadikan materi matematika itu dipahami secara lebih komprehensip. Selain itu, siswa lebih mudah mengingat materi itu.
Berdasarkan NCTM (The Nacinal Counci of Teaches of Matehematics, 2004) kemampuan dan pemahaman matematika dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam:
1. Mendefiniskan konsep secara verbal dan tulisan.
2. Mengidentifikasi, membuat contoh dan bukan contoh.
3. Menggunakan model, diagram dan simbol untuk mempresentasikan suatu konsep.
4. Mengubah suatu bentuk representasi kebentuk lain.
5. Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dengan mengenal syarat-syarat yang menentukan sutu konsep.
6. Membandingkan dan membedakan konsep.
G. Metode Penelitian
Untuk memperoleh hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran realistik di kelas VII SMP Negeri 1 Susukanlebak Kabupaten Cirebon, penulis menggunakan metode eksperimen.
Menurut Arikunto (2002: 136), “Metode eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari suatu yang dikenakan pada subjek selidiki”. Dengan kata lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya hubungan sebab-akibat. Caranya adalah dengan membandingkan satu atau lebih kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan dengan satu atau lebih kelompok pembanding yang tidak menerima perlakuan.
H. Populasi dan Sampel
Menurut Sudjana (2004: 6), ‘Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil menghitung atau pengukuran kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya”. Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Susukanlebak Kabupaten Cirebon tahun ajaran 2008/2009. Populasi dari penelitian ini terdiri dari delapan kelas dengan jumlah seluruh siswanya 340 orang.
Untuk menentukan sampel yang representatif penulis menggunakan sampel purposif. Menurut Sudjana (2004: 73) yang dimaksud sampel purposif (sample purposive) yaitu “Pengambilan unsur sampel atas dasar tujuan tertentu sehingga memenuhi keinginan dan kepentingan peneliti”.
Jadi, yang menjadi sampel purposif yaitu kelas VII-E dan VII-F karena kedua kelas tersebut memiliki rata-rata yang relatif sama, dilihat dari hasil tes nilai ulangan harian. Dari kedua kelas tersebut kemudian ditentukan secara acak kelas mana yang pembelajaran menggunakan model pembelajaran realistik (kelas eksperimen) dan kelas yang pembelajarannya dengan menggunakan model pembelajaran tradisional (kelas kontrol) dengan pengundian.
I. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah sesuai dengan Arikunto (2002: 41) yang dijelaskan sebagai berikut.
E : O1 X1 O2
K : O1 X2 O2
Keterangan:
E = kelas eksperimen
K = kelas kontrol
X1 = perlakuan pada kelompok eksperimen yaitu pembelajaran dengan menggunakan pendekatan realistik
X2 = perlakuan pada kelompok kontrol yaitu pembelajaran dengan menggunakan pendekatan biasa (tradisional)
O1 = tes awal
O2 = tes akhir
O1 = O2
J. Alur Penelitian

Gambar 1
Alur Penelitian
K. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian menurut Arikunto (2002: 136), “Alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah”.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal , tes tersebut merupakan tes awal dan tes akhir dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan himpunan. Tes awal digunakan untuk mengukur prestasi awal sedangkan tes akhir diberikan setelah proses belajar berakhir. Hasil ini untuk mengetahui apakah ada peningkatan atau kemajuan hasil belajar siswa pada tiap kelompok itu dan mengetahui mana yang lebih baik.
Dalam pengolahan tes yang baik perlu diperhatikan baik atau buruknya soal yang digunakan dalam tes tersebut. Dan untuk menyelidiki baik buruknya suatu soal harus dilakukan analisis butir soal, yaitu melihat validitas, reliabilitas, indeks kesukaran dan daya pembeda dari soal tersebut.

a. Menentukan Validitas Soal
Rumus

Dengan = koefisien korelasi antara variabel X dan Y
N = banyaknya siswa yang mengikuti tes
X = nilai hasil uji coba
Y = skor total
b. Menentukan Reliabilitas Soal
Rumus
Dengan = koefisien reliabilitas instrumen
= banyaknya butir soal
= varians skor total
= proporsi banyaknya subyek yang menjawab benar pada soal butir ke-i
= proporsi banyaknya subyek yang menjawab salah pada soal butir ke-I (q=1-p)
c. Menentukan Daya Pembeda Soal
Untuk menghitung daya pembeda digunakan rumus menurut Kurikulum 1994 (dalam Praja, 2001: 42) yaitu:
Rumus
Dengan DP = daya pembeda
SA = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok atas
SB = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok bawah
N = jumlah siswa dari kelompok atas dan kelompok bawah
Maks = skor maksimal
d. Menentukan Indeks Kesukaran Soal
Untuk menghitung indeks tingkat kesukaran soal yang berbentuk uraian berdasarkan Kurikulum 1994 (dalam Praja, 2001: 41) digunakan rumus:
Rumus
Dengan IK = indeks kesukaran tiap butir soal
SA = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok atas
SB = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok bawah
N = jumlah siswa dari kelompok atas dan kelompok bawah
Maks = skor maksimal
L. Prosedur Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Persiapan Penelitian
Sebelum pelaksanaan penelitian, penulis melakukan persiapan terlebih dahulu. Adapun langkah-langkah penulis melakukan persiapan, yaitu:
a. Mengajukan judul penelitian.
b. Membuat proposal.
c. Mengajukan permohonan izin penelitian.
d. Mengadakan penelitian.
2. Pelaksanaan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian, penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memilih sampel purposif sampling.
b. Membagi sampel menjadi dua kelompok (kelas), yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.
c. Masing-masing kelas (eksperimen dan kontrol) diberikan kegiatan belajar-mengajar.
d. Kelas eksperimen kegiatan belajar-mengajarnya menggunakan pendekatan realistik, sedangkan kelas kontrol kegiatan belajar-mengajarnya dengan pembelajaran biasa.
e. Mengambil data yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol.
M. Teknik Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini merupakan data mentah yang belum memiliki makna yang berarti. Agar data tersebut dapat lebih bermakna dan dapat memberikan gambaran nyata mengenai permasalahan yang diteliti, maka data tersebut haruslah diolah terlebih dahulu sehingga dapat memberikan arah untuk menganalisis lebih lanjut.
Adapun langkah-langkah dalam mengolah data dari hasil pretes dan postes adalah sebagai berikut.
a. Menguji Normalitas, nilai tes pada dua kelompok
1. Mencari nilai rata-rata dua kelompok
Rumus
Dengan = Rata-rata untuk sample
= Banyaknya data
2. Mencari nilai deviasi standar
Rumus
Dengan = Deviasi standard
= Rata-rata
= Data dari sample
= Banyaknya data
3. Membuat daftar distribusi frekuensi
3.1. Menentukan banyaknya kelas
Rumus K = 1 + 3,3 log n
Dengan K = Banyaknya kelas interval
n = Banyaknya data
3.2. Menetukan rentang
Rumus Rentang = Data terbesar – Data terkecil
3.3. Menetukan Panjang kelas
Rumus P =
Dengan P = Panjang Kelas
r = Rentang
k = Banyak interval
4. Menghitung nilai ( chi kwadrat)
Rumus =
Dengan = chi-kuadrat hitung
Oi = frekuensi hasil pengamatan (frekuensi observasi) ke-i
Ei = frekuensi yang diharapkan (frekuensi ekspektasi) ke-i
Dengan rumus Ei = n x I
I = Luas tiap kelas interval ( Gunakan daftar Z)
N = Bnayaknya data
Z = Transpormasi normal standar dari batas kelas, dengan rumus
Z =
bk = Batas Kelas
5. Menentukan derajat keabsahan
Rumus dk = k – 3
Dengan dk = Derajat keabsahan
k = Bayak kelas
6. Menentukan nilai chi kwadrat dari daftar 0,99 (dk)
7. Menetukan Normalitas
7.1. Jika , maka populasi berdistribusi normal
7.2. Jika , maka populasi tidak berdistribusi normal
Jika berdistribusi normal, langkah selanjutnya adalah menguji homogenitas variansinya.

b. Menguji Homogenitas Varians keuda kelompok
1. Menghitung nilai F
Rumus F =
Dengan Vb = Varians besar
Vk = Varians kecil
2. Menentukan Derajat Keabsahan
Rumus dk1 = n1 – 1
dk2 = n2 – 1
Dengan dk1 = Derajat keabsahan pembilang
dk2 = derajat keabsahan penyebut
n1 = Ukuran sample varians besar
n2 = Ukuran sample varians kecil
3. Menetukan nilai F dari daftar
Rumus F0,01 (dk pembilang/dk penyebut
4. Menetukan homogenitas
4.1. Jika Fhitung, < Fdaftar maka varians tersebut homogen
4.2. Jika Fhitung, ≥ Fdaftar maka varians tersebut tidak

c. Menganalisis hasil tes pada kedua kelompok dengan uji –t setelah peentuan homogenitas

1. Mencari standard deviasi gabungan
Rumus Sgab =
Dengan Sgab = Deviasi standar gabungan
n1 = Ukuran sampel 1
n2 = Ukuran sampel 2
V1 = Varians sampel 1
V2 = Varians sampel 2
2. Mencari nilai t
Rumus =
Dengan x1 = Rata-rata sampel 1
x2 = Rata-rata sampel 2
n1 = Ukuran sampel 1
n2 = Ukuran sampel 2
3. Menentukn derajat keabsahan
Rumus dk =
4. Menetukan nilai t dari daftar.

d. Pengujian Hipotesis
1. Jika t di luar atau sama dengan batas interval t0,975 tetapi masih dalam interval t0,995 kedua kelompok tersebut berbeda signifikan.
2. Jika t ada di luar atau sama dengan batas interval t0,995 maka kedua kelompok berbeda sangat signifikan
3. Yang lebih baik adalah rata-rata lebih besar
4. Jika kedua kelompok sudah berbeda pada taraf signifikan 1% tidak perlu diperiksa kembali pada taraf signifikan 5%, sebab jika t sudah terletak di luar interval t0,995, maka pasti terletak juga di luar interval t0,975.

DAFTAR PUSTAKA
Sagala, S. (2006). Konsep dan makna pembelajaran. Bandung : Alvabeta.
Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta.
Khusnul Khotimah (2007). Pengaruh Pendekatan kontekstual terhadap kemampuan pemahaman matematika siswa. Skripsi pada FKIP Unswagati Cirebon:Tidak diterbitkan
Suherman, dkk. (2001). Model-model Pembelajaran Matematika. Bandung: Penerbit.
Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Helllianti, D. (2008). Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Open-Ended Terhadap Pemahaman Matematika Siswa. Skripsi Pada FKIP Unswagar
Elis Yusimarliah (2007) Pengaruh Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Realistik Terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa. Skripsi pada FKIP Unswagati Cirebon: Tidak diterbitkan
Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Potensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Sudjana. (2004). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Laelasari, A. (2002). Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas II SMP Negeri 1 Kuningan. Skripsi pada FKIP Unswagati Cirebon: Tidak diterbitkan.
Nurhayati. (2006). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Matematika Realistik di Kelas VII SMP Negeri 1 Widasari Indramayu. Skripsi pada FKIP Unswagati Cirebon: Tidak diterbitkan.
Ahmadi, A. dan Prasetya, J.T. (1997). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Syah, M. (1995). Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Tim MKPBM. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI.
Praja, E. (2002). Pembelajaran Keterampilan Proses Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif untuk Siswa Sekolah Dasar. Tesis pada Program Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.


Skripsi

Rabu, 02 Maret 2011

Etika Pelajar Islam

ETIKA PELAJAR ISLAM

A. Pendahuluan
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang telah mengajarkan kesempurnaan etika kepada manusia dan membuka pintu bagi mereka untuk mengamalkannya. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada manusia terbaik yang beribadah dan kembali kepada Allah Tabaroka wata'ala. Sesungguhnya Islam benar-benar menaruh perhatian yang sangat besar kepada manusia di dalam segala perihal dan urusannya, agama dan dunianya, lapang dan kesulitannya, bangun dan tidurnya, dikala bepergian dan iqamah, makan dan minum, bahagia dan sedihnya. Tidak ada perkara kecil ataupun besar apapun yang tidak dijelaskan oleh Islam.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah menggoreskan buat kita melalui ucapan dan perbuatannya rambu-rambu etika yang seyogya-nya ditempuh oleh setiap mu'min di dalam hidupnya. Melalui kepribadiannya yang mulia, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita contoh etika yang seharusnya ditiru. Maka barang siapa yang menghendaki kebahagiaan, hendaklah ia menempuh jalan hidup Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dan meneladani etikanya. Oleh karena kebanyakan orang pada akhir-akhir ini yang tidak mengetahui etika- etika tersebut atau butuh untuk diingatkan kembali, maka kami memandang perlu menyajikannya secara singkat, dengan iringan do`a kepada Allah Tabaroka wata'ala semoga amal ini berguna bagi segenap kaum muslimin. Semoga shalawat dan salam tetap dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

B. Pengertian Etika

Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).
Selain akhlak kita juga lazim menggunakan istilah etika. Etika merupakan sinonim dari akhlak. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni ethos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan yang dimaksud kebiasaan adalah kegiatan yang selalu dilakukan berulang-ulang sehingga mudah untuk dilakukan seperti merokok yang menjadi kebiasaan bagi pecandu rokok. Sedangkan etika menurut filasafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Etika membahasa tentang tingkah laku manusia.
Ada orang berpendapat bahwa etika dan akhlak adalah sama. Persamaan memang ada karena kedua-duanya membahas baik dan buruknya tingkah laku manusia. Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran manusia. Akan tetapi dalam usaha mencapai tujuan itu, etika mengalami kesulitan, karena pandangan masing-masing golongan dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai ukuran (kriteria) yang berlainan.
Apabila kita menelusuri lebih mendalam, maka kita dapat menemukan secara jelas persamaan dan perbedaan etika dan akhlak. Persamaan diantara keduanya adalah terletak pada objek yang akan dikaji, dimana kedua-duanya sama-sama membahas tentang baik buruknya tingkah laku dan perbuatan manusia. Sedangkan perbedaannya sumber norma, dimana akhlak mempunyai basis atau landasan kepada norma agama yang bersumber dari hadist dan al Quran.
Para ahli dapat segera mengetahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai berikut.
1. dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbutaan yang dilakukan oleh manusia.
2. dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran dan filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka etika tidak bersifat mutlak, absolut dan tidak pula universal.
3. dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, terhina dsb.
4. dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-rubah sesuai tuntutan zaman.
Dengan ciri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.

C. Etika Pelajar islam
Pelajar Islam Indonesia , kalimat ini adalah satu kesatuan kata yang cukup komplit mencakup nama, kepribadian dan orientasi diri untuk setiap penuntut ilmu. Setiap orang hakikatnya adalah pelajar. Bagaimanapun proses pembelajaran yang ditempuh untuk memperoleh ilmu pengetahuan tersebut, dia dinamakan sebagai pelajar. Dan pelajar itu adalah kita semua. Karena belajar, merupakan tuntutan hidup mulai dari buaian sampai ke liang lahad. Sepanjang napas dikandung badan, sebelum nyawa berada di krongkongan dan selama seseorang masih dikatakan hidup, maka orang itu masih memangku tugas belajar tersebut.
Dalam prakteknya, belajar ini dibagi menjadi formal, informal dan nonformal. Ketiga pembagian ini memiliki bobot dan tuntutan yang sama. Ketiganya dihukumkan wajib bagi siapa saja, yang hendak meningkatkan kualitas diri dan berakhir pada pengenalan siapa dirinya, dimana ia berada serta siapa Penciptanya. Oleh karena itu, tidak mutlak benar ungkapan “ aku ada karena aku berpikir”. Sebab, dari proses berfikir ini akan melahirkan hal-hal yang bersifat transendental juga. Idealnya, orang yang bermula berfikir tentang siapa dirinya, tentu akan membawanya untuk berfikir, bagaimana asal muasalnya, dan untuk apa keberadaanya. Sehingga, muncul pertanyaan susulan, Siapa yang menciptakannya. Kalau dalam pembahasan filsafat, ini disebut ontologi, epistimologi dan aksiologi. Maka pantas, bagi kalangan sufi menyebutkan ; man arrafa nafsah faqad arafa rabbah, bahwa dalam rangka mengenal tuhan dibutuhkan proses identifikasi diri.
Kembali pada klasifikasi belajar. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa belajar itu secara garis besar dibagi dua; Formal dan nonformal. Yang jelas, belajar formal ini adalah proses belajar yang diperoleh di bangku sekolah dan kuliah. Semua proses pembelajaran yang sifatnya formal, mulai dari dasar, menegah, atas, hinggga ke perguruan tinggi, maka ini disebut belajar formal. Karena memang, pada akhir jenjang di setiap tingkat, ada ijazah atau sertifikat yang dikeluarkan sebagai pernyataan bahwa orang yang bersangkutan telah selesai. Dan biasanya, surat keterangan itu memiliki akses nasional bahkan internasioanal.
Berbeda mungkin dengan pendidikan nonformal, proses transformasi pengetahuan yang berlangsung bukan di bangku-bangku sekolah atau kuliah, meletakkannya sebagai tempat pembelajaran yang sifatnya suplemen. Tuntutannya hanya sebatas anjuran bukan kewajiban. Karena penguasaan ilmu tersebut hanya bersifat dukungan. Pembelajaran inilah yang kemudian banyak ditemukan di tempat-tempat kursus.
Kemudian, untuk pendidikan yang sifatnya informal, adalah proses-proses pembelajaran yang dieperolah seseorang melalui hasil interaksinya dengan masyarakat. Atau, proses-proses transformasi ilmu yang diperolah dari lembaga-lembaga kajian baik dari organisasi ataupun lainnya. Dan untuk hal ini, berawal dari sebuah masyarakat yang paling kecil yaitu keluarga, seseorang sebenarnya telah melakukan pembelajaran. Pola interaksi anggota keluarga inilah yang menjadi basis bagaimana seorang anak sebagai murid belajar etika dari orang tua sebagai gurunya.
Dari ketiga pengelompokkan proses belajar di atas, adalah yang menjadi sorotan utama untuk penamaan belajar tertumpu pada belajar yang sifatnya formal. Belajar formal inilah yang kemudian memfokuskan diri untuk proses transformasi ilmu yang dikategorikan tuntutan. Artinya, tanpa harus memandang belajar informal dan nonformal itu, tidak dituntut, belajar formal itu dianggap lebih prioritas bagi setiap orang. Benar memang, bahwa tuntutan belajar itu adalah untuk segala bentuk pembelajaran. Namun dalam kesempatan ini, kita akan mencoba melihata lebih dalam bagaimana karakteristik pelajar sejati dia bangku pendidika formal.
Sejatinya seorang muslim, apa pun tindakannya haruslah searah dengan apa yang digariskan oleh agama Islam. Hal inilah yang kemudian timbul jadi pertanyaan, apakah kita yang sedang belajar di pendidikan formal sudah terpatri jiwa keislaman yang kokoh, sehingga cara pandang kita terhadap ilmu pengetahuan tidak lagi membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum.
Bagaimana mungkin seorang muslim yang tengah mendalami ilmu-ilmu agama, lantas dia alergi mendengar ilmu-ilmu non agama. Atau sebaliknya, seorang muslim yang belajar ilmu-ilmu non agama, jadi buta sama sekali dengan pengetahuan agama. Penyekatan inilah yang membuat kebanyakan muslim menjadi orang yang setengah-setengah. Ibarat bertepuk sebelah tangan, maka tak kan ada irama yang indah bisa diperdengarkan. Wal hasil kesempurnaan pendidikan pun jauh dari harapan.
Satu hal yang cukup sulit mungkin, mengharapkan muncul sosok muslim yang paham di bidang keagamaan di satu sisi, namun ia juga pakar di bidang umum di sisi lain. Tapi memang ini adalah sebuah keharusan. Kalaupun Imam Ghazali membagi ilmu pada fardhu ain untuk ilmu agama, dan fardhu kifayah untuk ilmu umum, bukan berarti bahwa penuntut ilmu agama bisa berlaku cuek pada materi-materi yang sifatnya umum. bukankah penguasaan ilmu dibutuhkan bagi siapa saja yang mengingin kan kebaikan dunia dan akhirat. Sampai-sampai derajat orang yang berilmu itu lebih tinggi dari ahli ibadah. Ini menandakan, ilmu agama adalah kewajiban dan ilmu umum adalah keharusan. Artinya, untuk menuju pribadi muslim yang kaffah dia harus bisa menggabungkan keduanya.
Agama merupakan spirit yang melapisi semua lini kehidupan. Kehadirannya tidak bisa dilepas dari aktivitas hidup yang ada. Oleh karenanya, penguasaan di bidang agama ini, justru menuntut penguasaan pengetahuan yang berhubungan dan agama dan kehidupan itu sendiri. Pendeknya, kalau agama menggolongkan hidup, ada yang di dunia dan ada yang di akhirat, maka penguasaan ilmu agama, yang sifatnya keduniaan haruslah berlaku seoptimal mungkin. Karena agama muncul sebagai pengatur hubungan antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, masyarakat dengan masyarakat dan individu dengan Tuhan.
Lalu bagi seorang muslim yang tengah mendalami pengetahuan-pengetahuan umum, semestinya tidak lupa di mana tempat berpijak dirinya. Tidak mudah menjadi seorang yang pakar di bidang umum, namun paham juga tentang agama. Tapi, lagi-lagi ini adalah keharusan. Sebab, agama adalah identitas kepribadian seseorang. Karena agama adalah sumber segala inspirasi bagi tiap sesuatu.
Tentu, dalam prakteknya akan berbeda, orang yang berfikir dengan tolok ukur agama dengan yang berfikir tanpa agama. Begitu juga, tidak sama buah fikir orang yang memiliki latar belakang agama yang berbeda. Orang yang yang berfikir non agama akan cenderung atheis dan mendewakan rasionalitas. Begitu juga orang yang berfikir dengan krangka agama tertentu, maka pasti menghasilkan buah fikir yang sejalan dengan norma-norma yang berlaku pada agama tersebut. Sehingga ilmu yang dihasilkan adalah sejalan dengan apa yang digariskan agama.
Terakhir, dalam apa yang disebut tujuan. Segala tindak tanduk seseorang di dasari dengan sebuah orientasi yang ingin di peroleh. Seseorang yang melakukan sesuatu tanpa didasari oleh tujuan yang jelas maka cenderung prosesnya lambat dan tidak teraatur. Bukan hanya itu saja, bahkan tanpa arah yang jelas maka bisa-bisa akan berakhir sia-sia. Oleh karenanya, dalam agama orientasi ini disebut dengan niat.
Kaitannya dengan status sebgai pelajar berjiwa islam yang kuat, maka hal yang paling tepat adalah bagaimana memberdayakan ilmu yang diperoleh bisa berguna bagi masyarakat. Dan dalam hal ini, pelajar islam di tanah air kita sejatinya, adalah orang-orang yang dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, bisa di dayagunakan untuk kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia . Dengan demikian, maka jadilah ia orang terbaik sebagaiamana yang disabdakan rasul; “Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang banyak”
D. Contoh Etika Pelajar Islam
a. Etika Menjenguk Orang Sakit
Untuk orang yang berkunjung (menjenguk):
1. Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan membahagiakannya.
2. Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang dirasakannya, seperti mengata-kan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”. Sebagai-mana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.
3. Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan.
4. Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a: “Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).
5. Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.
6. Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan kedua matanya dan mendo`akan-nya.
Untuk orang yang sakit:
1. Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.
2. Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan ketaatannya.
3. Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, dan segera mem-bayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemi-liknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
4. Memperbanyak zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar (minta ampun).
5. Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya, karena dengan demikian ia pasti diberi pahala.
6. Berserah diri dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan usaha- usaha syar`i untuk kesembuhan-nya, seperti berobat dari penyakitnya.


b. Etika Bertamu
Untuk orang yang mengundang:
1. Hendaknya mengundang orang-orang yang bertaqwa, bukan orang yang fasiq.
2. Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan orang-orang fakir.
3. Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoya- foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan membahagiakan teman-teman sahabat.
4. Tidak memaksa-maksakan diri untuk mengundang tamu.
5. Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.
6. Jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah kegembiraan dengan kahadirannya, bermuka manis dan berbicara ramah.
7. Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya.
8. Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hidangan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan.
9. Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.
Bagi tamu :
1. Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim).
2. Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya.
3. Jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya
4. Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget sebelum semuanya siap.
5. Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.
6. Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.
7. Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya.

c. Etika Bergaul Dengan Orang Lain
1. Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat.
2. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya.
3. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai.
4. Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan tanyakanlah keadaan mereka.
5. Bersikap tawadhu'lah kepada orang lain dan jangan merasa lebih tinggi atau takabbur dan bersikap angkuh terhadap mereka.
6. Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain.
7. Berbicaralah kepada mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka.
8. Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.
9. Memaafkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari kesalahankesalahannya, dan tahanlah rasa benci terhadap mereka.
10. Dengarkanlah pembicaraan mereka dan hindarilah perdebatan dan bantah-membantah dengan mereka.

d. Etika Berbicara
1. Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan.
2. Hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.
3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu
4. Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar
5. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.
6. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa.
7. Menghindari perkataan jorok (keji).
8. Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara.
9. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba.
10. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.
11. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
12. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.
13. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara.



E. Penutup
Apa yang disampaikan di atas hanya sebagain kecil dari beberapa contoh etika yang semestinya di lakukan oleh umat islam pada umumnya dan bagi pelajar dan pada khususnya. Dengan adanya etika tersebut diharapkan bisa di jadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita semua dapat hidup tentram dan sesuai dengan sunah-sunah Rosul Allah.